Bursa Saham – Para Unicorn tidak daftar Bursa Efek Indonesia?

Hai Sobi disini. Di blog kali ini Sobi mau share mengenai Bursa Saham. Sobat Sobi pernah kepikiran gak kalau Para Unicorn di Indonesia seperti Go-jek, Tokopedia, Bukalapak dan lain-lain mereka maen di bursa saham gak? Dan strategi bisnis seperti apa yang mereka jalankan selama ini. Udah kita langsung bahas bareng-bareng lagi. 😎

Sobi punya hipotesis mengapa para “Unicorn” di Indonesia belum masuk bursa saham local?. Yaa kalo Hipotesis singkatnya, mereka tidak masuk bursa saat ini karena dua alasan:

1. Strategi bisnis

Mereka merasa belum terlalu penting atau mungkin belum ada tuntutan. Berikut penjelasan lebih rinci dari hipotesis tersebut:

Strategi bisnis. Menjadi perusahaan public, artinya berkewajiban membuka laporan keuangan ke halayak publik. Dengan kata lain, membuka peluang kompetitor merancang langkah bisnisnya berdasarkan laporan keuangan tersebut. Apalagi jika status kompetitornya masih perusahaan tertutup.

Contoh konkretnya:

Andai Tokopedia go-public sedangkan Bukalapak belum, maka Bukalapak mengetahui kekuatan modal dan proyeksi keuntungan Tokopedia. Jika ternyata modal Bukalapak lebih besar dari Tokopedia, bukan tidak mungkin Bukalapak membuat promo dengan tujuan mengganggu arus kas Tokopedia. Karena laporan keuangan tersedia setiap 3 bulan, maka Bukalapak bisa menyesuaikan tak-tiknya tiap laporannya dirilis.

2. Belum perlu

Karena manfaat menjadi perusahaan public, tentunya mereka merasa belum dibutuhkan oleh perusahaan. Menurut IDX, ada 6 hal manfaat bagi perusahaan yang go-public:

  • Membuka akses terhadap sarana pendanaan jangka panjang,
  • Meningkatkan nilai perusahaan,
  • Meningkatkan image perusahaan,
  • Menumbuhkan loyalitas karyawan,
  • dan kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan usaha.
  • Insentif pajak

Menurut sobi, hanya poin pertama dan terakhir saja yang memang secara konkret memberi manfaat. Sisanya, hanyalah asumsi yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar perusahaan publik. Izinkan Sobi merinci alasannya:

Membuka akses terhadap sarana pendanaan jangka panjang:

“… akses terhadap sarana …”, yang dimaksud adalah pasar modal itu sendiri. Barangkali memang, dengan menjadi publik, perusahaan relatif lebih cepat mendapat suntikan dana baru lewat pasar modal, ketimbang secara tertutup.

Namun, sobi pikir mendapat modal baru bukanlah soal. Terlebih lagi, dengan prediksi bahwa Indonesia akan memimpin ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2025, InsyaAllah…

Hipotesis berdasarkan info tersebut, modal tak akan menjadi isu bagi tech startup, terutama “unicorn” di Indonesia, selama mereka menjaga pertumbuhan secara linier.

Mereka merasa belum terlalu penting atau mungkin belum ada tuntutan untuk mendaftarkan saham unicorn mereka ke bursa saham. Karena manfaat menjadi perusahaan public, tentunya mereka merasa belum dibutuhkan oleh perusahaan.

Meningkatkan nilai perusahaan:

Teorinya, nilai perusahaan publik ditentukan oleh pasar, berbasis kinerja laporan keuangan (analisis fundamental). Fakta lapangan, tak jarang pergerakan saham dikarenakan emosi pasar atau hype ketimbang kinerja perusahaan.

Meningkatkan image perusahaan:

Sobi belum menemukan formula yang menjamin diterimanya nilai publikasi tertentu ketika perusahaan menjadi publik. Jadi, sementara sobi anggap ini tidak valid.

Menumbuhkan loyalitas karyawan:

Sobi juga belum menemukan teori yang mengukur status perusahaan terhadap loyalitas karyawan. Meskipun, semua “unicorn” Indonesia memanfaatkan ESOP sebagai salah satu insentif untuk karyawannya.

Kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan usaha:

Di konteks ini, IDX memberi contoh kasus perusahaan yang sedang sengketa kepemilikannya dan terbelit utang. Dengan menjadi publik, setiap pemilik perusahaan punya kebebasan mengatur porsi kepemilikannya; entah dijual ke publik atau lainnya. Di konteks utang, perusahaan bisa membayar utangnya dengan memberi saham ke kreditur.

Solusi pada  kasus di atas adalah pengalihan kewajiban mengeluarkan dana dari internal (perusahaan) ke publik lewat pembagian saham. Seakan-akan sahamnya bisa dicairkan kapanpun dengan nilai yang diinginkan.

Di sisi lain, investor publik biasanya menjauhi saham perusahaan yang bermasalah sengketa kepemilikannya atau terbelit hutang. Meskipun pasar kadang tak rasional. Di atas kertas, nilai saham perusahaan bermasalah cenderung terus menurun.

Dengan kata lain, kedua contoh mengabaikan risiko likuiditas, yang sebenarnya juga terjadi di perusahaan tertutup. Jadi, menjadi publik tidak semerta-merta menyelesaikan 100% masalah tersebut.

Dengan Insentif pajak, Perusahaan publik mendapat diskon pajak sebesar 5%, dengan syarat 40% sahamnya diperdagangkan di bursa dan memiliki minimal 300 pemegang saham. Ini menarik karena formulanya jelas. Namun, pertanyaannya apakah pengurangan pajak 5% sebanding dengan risiko bisnisnya?

Belum ada tuntutan

Bukan tidak mungkin perusahaan menjadi publik karena tuntutan investornya. Dengan menjadi publik, investor lama dapat mencairkan (exit strategy) modal + keuntungan lebih cepat, timbang menunggu investor baru masuk, yang belum tentu mau membeli seluruh saham yang tersedia.

Bukan berarti, setelah menjadi publik, tuntutan investor ke-perusahaan menjadi lebih renggang. Bisa jadi malah makin ketat, seperti kompetisi Uber dan Lyft yang baru-baru ini terdaftar di bursa saham Amerika Serikat.

Hipotesis lainnya

Ada beberapa hipotesis lain yang bisa jadi alasan, tetapi sobi tidak yakin kebenaran analisis ini:

Total transaksi di pasar saham Indonesia tidak sebanding dengan valuasi “unicorn” saat ini. Akan terjadi devaluasi nilai perusahaan (akibat poin pertama) atau seperti yang terjadi pada Uber di Amerika Serikat.

Contoh kasus Uber di Amerika Serikat, ketika akan masuk pasar saham, Uber menargetkan total valuasi 120 miliar dolar AS atau sekitar 44 – 50 dolar AS per lembar saham. Faktanya, setiap lembar sahamnya hanya dihargai 45 dolar AS atau setara 75,46 miliar dolar AS, 38% lebih rendah dari target meraka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.